Embun pagi datang mengetuk subuh, lalu bergegas berlalu,
meninggalkan jejak bening di atas penampang daun keladi.
Ia turun mendinginkan semesta, menyejukkan gemuruh di dalam kalbu,
menyapu debu-debu lelah, menyisakan ruang bagi asa yang baru bersemi.
Sebab embun adalah miniatur kehidupan,
singgah sejenak tanpa pernah berjanji kapan ia tiba atau pamit pergi.
Bagaikan takdir yang jatuh dari keheningan malam,
menyapa daun-daun rapuh di bawah bayang-bayang mentari.
Kadang tetesnya meresap serupa genangan air mata dan luka,
mengingatkan kita pada dingin yang menusuk lara.
Namun di lain waktu, ia memantulkan cahaya bahagia,
menjadi peluh yang membasuh dahaga, menghidupkan kembali nyawa.
Kita hanyalah daun yang menadah jatuhnya waktu,
menerima basah dan kering dengan dada yang selalu terbuka.
Bersyukur atas embun yang menyentuh jiwa pagi ini,
sebelum siang merenggutnya, mengembalikannya pada rahasia semesta.
Bener Meriah, 7 November 2026.



