BANDA ACEH — Balai Bahasa Provinsi Aceh berkomitmen penuh menjaga kelestarian bahasa daerah dari ancaman kepunahan melalui program revitalisasi yang berkelanjutan. Langkah konkret tersebut diwujudkan lewat persiapan penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan November 2026 ini.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, Muhammad Irsan, saat membuka rapat Taklimat melalui Zoom Meeting pada Jumat, 6 November 2026. Dalam pemaparannya, Irsan menyatakan bahwa Indonesia merupakan sebuah ekologi bahasa yang sangat kaya dengan catatan terkini memiliki 711 bahasa daerah, termasuk yang hidup dan berkembang di Serambi Mekah.
“Saat ini terdapat tiga isu kebahasaan utama yang menjadi perhatian serius bagi Balai Bahasa Aceh. Ketiga isu ini meliputi perkembangan dan penggunaan Bahasa Indonesia, pelestarian bahasa daerah, serta penguasaan bahasa asing di tengah masyarakat,” kata Irsan.
Terkait bahasa daerah, ia menegaskan bahwa kedudukannya sangat krusial sebagai identitas kedaerahan yang mencerminkan jati diri masyarakat. Oleh karena itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah merancang berbagai program strategis untuk menjaga kelestariannya. Di wilayah Aceh sendiri, program revitalisasi ini sudah berjalan sejak tahun 2023 dan dipastikan tetap menjadi fokus utama di masa depan.
Sebagai puncak dari rangkaian revitalisasi tersebut, FTBI 2026 akan digelar secara daring. Irsan menjelaskan bahwa esensi dari festival tingkat provinsi ini sejatinya harus didahului oleh pelaksanaan FTBI di tingkat kabupaten dan kota yang sudah dilaksanakan dalam sepekan ke belakang.
Menyikapi situasi terkini, Irsan juga memberikan penjelasan mengenai format pelaksanaan festival. Mengingat adanya kebijakan efisiensi anggaran nasional, Balai Bahasa Aceh memutuskan untuk tetap melaksanakan kegiatan secara luring dengan menghadirkan para peserta bersama-sama di Banda Aceh, berkaca pada kesuksesan tahun-tahun sebelumnya.
Pihak Balai Bahasa menegaskan bahwa penyesuaian kondisi anggaran saat ini tidak akan menyurutkan semangat pelaksanaan kegiatan demi mencapai tujuan mulia pelestarian bahasa.
Irsan menambahkan, tujuan utama dari gerakan sistematis ini adalah mewariskan bahasa daerah kepada generasi muda. Melalui pendekatan edukatif ini, para siswa di sekolah diharapkan dapat menumbuhkan sikap positif dan kebiasaan menggunakan bahasa daerah mereka sendiri.
“Langkah preventif ini dinilai sangat mendesak agar bahasa-bahasa lokal di Aceh tidak mengalami kepunahan, sejalan dengan hasil kajian dari beberapa lembaga ilmiah serta Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh,” demikian pungkas Irsan.





