SEOUL – Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyerukan pembentukan badan keamanan siber tingkat pemerintah di tengah sektor keuangannya diserang oleh peretas yang diduga dilakukan Korea Selatan. Rabu,
Korea Selatan telah menghadapi intrusi siber yang berulang kali, di mana sektor keuangannya terpukul oleh serangan dalam beberapa minggu terakhir. Peretas Korea Utara telah disalahkan atas berbagai serangan sebelumnya terhadap perusahaan mata uang kripto, bank, dan sistem pemerintah.
Hal itu disampaikan Lee Jae-myung pada Selasa, 3 November 2026. Ia menegaskan bahwa pembentukan sebuah badan keamanan siber tingkat pemerintah yang kuat untuk mengoordinasikan fungsi-fungsi yang saat ini tersebar di berbagai lembaga. Ia menunjuk adanya keterbatasan dalam kapasitas saat ini untuk melindungi sistem-sistem penting.
"Sistem keamanan yang ada sekarang, yang berpusat pada inspeksi dan respons setelah kejadian, menunjukkan keterbatasan yang jelas," kata Lee dalam rapat kabinet.
Ia juga menyerukan sistem pencegahan yang komprehensif untuk melindungi layanan publik dan infrastruktur penting.
Dalam rapat tersebut, Lee juga merujuk pada pencurian bernilai miliaran dolar yang berdampak pada Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, namun tidak secara langsung menyebut nama Korea Utara, yang dituduh oleh FBI sebagai dalang di balik serangan tersebut. Korea Utara membantah terlibat pada hari Selasa.
"Ada juga kebutuhan untuk membahas pembentukan satgas tingkat pemerintah yang mencakup sektor publik dan swasta," ujar Lee.
Saya, sambung Lee, meminta agar Anda secara aktif mempertimbangkan pembentukan badan 'tsar' keamanan siber yang kuat dan efektif, yang dapat mengawasi dan mengoordinasikan fungsi-fungsi keamanan yang saat ini tersebar.
Badan Intelijen Nasional telah meluncurkan inspeksi keamanan darurat yang mencakup lebih dari 2.100 kementerian pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga publik, demikian dilaporkan oleh Kantor Berita Yonhap.
Korea Selatan telah menghadapi intrusi siber yang berulang kali, di mana sektor keuangannya terpukul oleh serangan dalam beberapa minggu terakhir. Peretas Korea Utara telah disalahkan atas berbagai serangan sebelumnya terhadap perusahaan mata uang kripto, bank, dan sistem pemerintah.[]


