Di dataran tinggi Gayo, Aceh, ada sebuah seni pertunjukan yang bisa berlangsung semalam suntuk dan membuat penontonnya betah duduk hingga subuh. Namanya didong. Sekelompok pria duduk melingkar, melantunkan syair dalam bahasa Gayo, sambil menepuk tangan dan memukul bantal kecil sebagai pengiring irama.

Syair sebagai Inti

Kekuatan didong terletak pada syairnya. Lirik dibawakan oleh seorang vokalis utama yang disebut ceh, lalu disambut anggota kelompok lainnya. Seorang ceh dituntut pandai merangkai kata, menguasai bahasa Gayo yang halus, dan mampu berimprovisasi menanggapi situasi.

Isi syair didong sangat beragam: puji-pujian kepada Tuhan, kisah sejarah dan legenda, nasihat tentang adat dan pergaulan, hingga sindiran halus terhadap persoalan sosial. Karena itu didong sering disebut sebagai media pendidikan sekaligus kritik sosial bagi masyarakat Gayo.

Tepuk Tangan dan Bantal

Didong tidak memakai alat musik dalam pengertian umum. Irama dibangun dari tepukan telapak tangan yang kompak dan pukulan pada bantal kecil. Gerak tubuh para pemain yang serempak, condong ke depan dan ke samping, menambah daya tarik pertunjukan. Kekompakan inilah yang membuat sebuah kelompok didong dinilai matang.

Didong Jalu: Adu Kepiawaian

Salah satu bentuk yang paling ditunggu adalah didong jalu, yaitu pertandingan antara dua kelompok dari kampung yang berbeda. Kedua kelompok tampil bergantian sepanjang malam, saling menjawab dan menanggapi syair lawan. Penonton menilai siapa yang paling cerdas dalam berbalas kata dan paling indah dalam menyusun lagu. Meski bernuansa persaingan, didong jalu juga mempererat hubungan antarkampung.

Alur Sebuah Pertunjukan

Pertunjukan didong biasanya dibuka dengan salam dan permohonan izin kepada tuan rumah serta para tetua yang hadir. Bagian ini menunjukkan betapa kuatnya nilai sopan santun dalam budaya Gayo. Setelah itu, ceh membawakan syair-syair inti yang temanya disesuaikan dengan acara, lalu diakhiri dengan penutup berupa permohonan maaf dan doa.

Di antara syair-syair itu, anggota kelompok yang disebut penepok menjaga irama dengan tepukan dan pukulan bantal. Ada kalanya tempo dibuat pelan untuk memberi ruang pada syair yang menyentuh perasaan, lalu dipercepat ketika suasana memanas, terutama dalam didong jalu.

Nilai yang Diwariskan

Didong mengajarkan banyak hal tanpa terasa menggurui: menghormati orang tua, menjaga kampung, bekerja keras di kebun, dan hidup rukun dengan tetangga. Bagi anak muda yang ikut berlatih, didong juga menjadi sekolah bahasa, karena syairnya memakai kosakata Gayo yang kaya dan berirama. Banyak ceh ternama dikenang hingga kini karena syair-syair mereka terus dinyanyikan ulang oleh generasi berikutnya.

Hadir di Berbagai Peristiwa

Didong biasa dipentaskan pada acara pernikahan, perayaan hari besar, peresmian, hingga penggalangan dana untuk pembangunan kampung. Dalam sejarahnya, kesenian ini juga dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat, karena pesannya mudah diterima ketika dibawakan dengan lagu.

Menjaga Didong Tetap Hidup

Seperti banyak seni tradisi lain, didong menghadapi tantangan zaman. Hiburan digital bersaing merebut perhatian generasi muda, sementara kemampuan berbahasa Gayo yang halus tidak lagi dikuasai semua orang. Sejumlah sanggar dan sekolah kini mengajarkan didong kepada pelajar, dan rekaman pertunjukan tersebar di media sosial sehingga dapat dinikmati warga Gayo di perantauan.

Bagi yang ingin menyaksikan langsung, cara terbaik adalah datang ke acara-acara masyarakat di Aceh Tengah atau Bener Meriah, terutama pada musim perayaan. Duduklah bersama penonton, dengarkan syairnya, dan rasakan bagaimana sebuah komunitas merawat ingatan dan nilai-nilainya melalui lagu.